Tragis!! Kembali Ditemukan Meninggal, 4 ABK WNI di Kapal Ikan Tiongkok

Tragis!! Kembali Ditemukan Meninggal, 4 ABK WNI di Kapal Ikan Tiongkok

Rabu, 19 Agustus 2020, 11:48:00 AM
Tragis!! Kembali Ditemukan Meninggal, 4 ABK WNI di Kapal Ikan Tiongkok
Tribunnetizen.news - Setelah beberapa bulan yang lalu viral jasad ABK (Anak Buah Kapal) ditemukan meninggal diatas kapal, sekarang kejadian tersebut terjadi lagi.

Para ABK yang bekerja di atas kapal penangkap ikan tak ikut merasakannya. 4 ABK yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) ditemukan meninggal saat bekerja di kapal ikan berbendera Tiongkok.

Menurut data dari kepolisian dan instansi terkait, 4 ABK itu bekerja di dua kapal penangkap ikan berbeda. 3 jenazah ditemukan oleh personel Kepolisian Riau pada 12 Agustus 2020 lalu di sebuah kapal milik nelayan lokal di Pelabuhan Sekupang, Kota Batam.

Ketiga jenazah itu ternyata dipindahkan dari kapal ikan Fu Yuan Yu 829 yang tengah berlayar menuju ke Argentina, yang tengah melewati perbatasan Batam dan Singapura. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes (Pol) Arie Dharmanto, mengatakan 3 jenazah itu kemudian dibawa ke rumah sakit di Batam.

"Kami mendapatkan infomasi dari masyarakat, yang mengatakan ada orang yang menyewa pancung (perahu) yang digunakan untuk menjemput mayat," ungkap Arie dan dikutip dari kantor berita ANTARA pada Senin, 17 Agustus 2020.

Ketiga jenazah diketahui berinisial S (22 tahun) dan M (26 tahun) yang berasal dari Aceh serta DA (23 tahun) asal Donggala, Sulawesi Tengah. Sementara, jenazah keempat ditemukan di Peru.

Jenazah yang diketahui berinisial SA itu bekerja di kapal penangkap ikan Long Xin 629. Itu merupakan kapal yang sama di mana krunya melakukan pelarungan terhadap 3 jenazah ABK asal Indonesia.

Mengapa kematian terhadap ABK yang bekerja di kapal penangkap ikan berbendera Tiongkok terus berulang?

Dengan ditemukannya 4 jenazah ABK lainnya, semakin menambah panjang daftar ABK yang meninggal. Bahkan, ada 2 ABK yang melompat dari kapal lantaran tidak tahan diperlakukan dengan tindak kekerasan selama bekerja di sana.

2 ABK yang lompat dari kapal dan hingga kini belum ditemukan yaitu:

1. 7 April 2020 (lompat ke laut hingga sekarang belum ditemukan di perairan Selat Malaka)

Aditya Sebastian bekerja di Kapal Fu Yuan Yu 1218

2. 7 April 2020 (lompat ke laut hingga sekarang belum ditemukan di perairan Selat Malaka)

Sugiyana Ramadhan bekerja di Kapal Fu Yuan Yu 1218
Sementara itu, bila dihitung sejak periode November 2019, sudah ada 19 ABK yang bekerja di kapal penangkap ikan Tiongkok dan ditemukan meninggal dunia. Berikut daftarnya:

1. 22 November 2019 (jenazahnya dikubur di laut pada 23 Desember 2019)

Taufik Ubaidilah bekerja di Kapal Fu Yuan Yu 1218

2. 21 Desember 2019 (jenazahnya dikubur di laut)

Sepri bekerja di Kapal Long Xing 629

3. 27 Desember 2019 (jenazahnya dikubur di laut)

Alfatah bekerja di Kapal Long Xing 802

4. 16 Januari 2020 (jenazahnya dikubur di laut)

Hardianto bekerja di Kapal Luqing Yuan Yu 623

5. 30 Maret 2020 (jenazahnya dikubur di laut)

Ari bekerja di Kapal Tian Yu 8

6. 27 April 2020 (meninggal di RS Busan, Korea Selatan)

Effendi Pasaribu

7. 22 Mei 2020 (meninggal di Pakistan)

Eko Suyanto bekerja di Kapal FV Jin Shung

8. 26 Mei 2020 (meninggal di Fiji)

Abdul Wakhid bekerja di Kapal Lu Rong Yuan Yu 326

9. Mei - Juni 2020 (jenazah dilarung di Samudera Hindia dan Laut China Selatan)

ABK berinisial D bekerja di Kapal Han Rong 363 dan ABK berinisial AS, R dan W bekerja di Kapal Han Rong 368

10. 11 Juni 2020 (meninggal di Laut Australia)

Wiwi Suryono bekerja di Kapal Lu Rong Yuan Yu 619

11. 20 Juni 2020 (meninggal di atas kapal dan jasadnya disimpan di lemari pendingin)

Hasan Apriadi bekerja di kapal FV Lu Huang Yuan Yu 118

12. 20 Juni 2020 (meninggal di Peru)

Hendrik Bidori

13. Agustus 2020 (jenazah dipindah ke kapal kecil dan dibawa ke rumah sakit)

ABK berinisial S, M dan DA bekerja di kapal Fu Yuan Yu 829

14. Agustus 2020 (jenazah masih di atas kapal Long Xin 629 di perairan Peru)

ABK berinisial SA

Dalam penelusuran organisasi Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, sebagian besar ABK WNI yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok mengalami kerja paksa, perdagangan dan penyelundupan orang. Bahkan, selama bekerja, mereka juga kerap mengalami kekerasan fisik hingga intimidasi.

"Kondisi kerja mereka juga tidak layak dan kejam di atas kapal," ungkap Koordinator DFW Indonesia, Mohamad Abdi Suhufan.

Modus penyeludupan orang juga ditemukan pada kasus yang menimpa korban bernama Eko Suyanto. Eko yang dalam kondisi sakit dipindahkan dari kapal ikan FV Jin Shung ke kapal nelayan Pakistan. Ia kemudian terlantar dan meninggal di Pelabuhan Karachi Pakistan pada Mei 2020 lalu.

“Setelah wafat, masalah yang dihadapi belum selesai sebab para korban tersebut masih mengalami pemotongan upah dan gaji yang tidak dibayarkan," tutur dia lagi.

Selain 21 ABK WNI yang diketahui meninggal dan masih hilang, masih ada puluhan lainnya yang terjebak dan bekerja di kapal penangkap ikan berbendera Tiongkok. Mereka kini masih melakukan penangkapan ikan di laut internasional.

“Mereka terjebak pada kondisi kerja yang tidak adil dan tertindas serta minta dipulangkan," katanya.

Oleh sebab itu, DFW-Indonesia mendesak pemerintah agar segera mencegah dan menghentikan praktik kekerasan yang menimpa ABK WNI di kapal Tiongkok. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh Pemerintah Indonesia untuk mencegah agar tidak ada lagi kekerasan yang dialami oleh ABK WNI.

"Pertama, melakukan koordinasi antara pemerintah daerah dan asosiasi manning agent untuk pendataan keberadaan ABK perikanan yang bekerja di kapal Tiongkok baik yang legal dan ilegal. Pemerintah perlu memastikan status dan keberadaan mereka saat ini untuk mengambil langkah antisipasi seperti repatriasi untuk ABK yang bekerja di kapal ikan bermasalah, di mana mereka mengalami kekerasan dan penyiksaan," ujarnya.

Kedua, pemerintah perlu menjamin dan memastikan hak-hak para korban ABK tersebut dapat diterima oleh ahli waris korban. Keluarga korban perlu pendampingan dan perlindungan agar tidak dipermainkan oleh calo atau broker kasus.Ketiga, aparat penegak hukum Indonesia perlu melakukan penyelidikan terhadap sejumlah manning agent pengirim ABK yang meninggal karena ikut bertanggung jawab atas kematian yang dialami.

Nonton Videonya disini :

(Tribunnetizen.news/Celine)
























https://www.instagram.com/putriririajjah/
























Bandar Ceme Online Terpercaya


TerPopuler

close