Tahanan Narkoba Polda Jambi Meninggal Dengan Mata Lebam & Di Perban, Kata Polisi Karena Penyakit Jantung!

Tahanan Narkoba Polda Jambi Meninggal Dengan Mata Lebam & Di Perban, Kata Polisi Karena Penyakit Jantung!

Selasa, 21 Juli 2020, 6:00:00 PM
Tribunnetizen.news - Seorang tahanan narkoba meninggal dunia dengan kondisi mata bengkak dan badan diperban karena disiksa agar mengakui siapa bandarnya viral dimedia sosial.

Ripansyah (26) tahanan narkoba meregang nyawa, Sabtu (18/7). Tahanan Polda Jambi sebelum tewas, terdapat perban dan mata yang bengkak.

Dibalik meninggalnya Tahanan Narkoba di Polda Jambi pekan lalu, ternyata benar ada indikasi kekerasan yang dilakukan oleh oknum petugas, terhadap tahanan Narkoba tersebut.

Hal ini disampaikan langsung oleh Ernawati, selaku Ibu Kandung tahanan Narkoba di Mapolda Jambi yang meninggal waktu lalu, saat dijumpai Dinamikajambi.com di kediamannya kawasan Mayang Kota Jambi.

Dari keterangan Erna, tahanan narkoba Polda Jambi itu, bernama Ripansyah (26) warga RT. 17 Kelurahan Mayang Mengurai, Kecamatan Kota Baru Jambi.

Awalnya, Ripan yang lagi berada dirumahnya ditelpon salah satu temannya, untuk mengambil barang (Narkoba) di Alfamart yang tidak jauh dari kediamannya.

Setelah sampai di lokasi, Ripan yang waktu itu jalan kaki langsung dibekuk polisi, ketika tengah melakukan transaksi di depan Alfamart tersebut sekitar jam 23.00 wib, Kamis (09/07/2020).

“Setelah ditangkap, dia langsung dibawa. Saya kaget banyak orang, saya tanya Ripan mana. Ripan sudah saya amankan bilang polisi,” jelas Erna, Senin (20/07/2020) sekitar pukul 13.00 wib.

Tak ayal, orang tua Ripan itu pun teriak histeris, sembari pihak kepolisian menggeledah rumahnya tersebut.

“Saya tanya Ripannya mana, ada sudah kami amankan katanya. Tapi saya dengar ada suara bilang ‘ngaku’, seperti ada Ripan disitu.” tambahnya lagi.

Selang beberapa menit kemudian, Ripan dibawa petugas kepolisian ke rumahnya, dalam keadaan tidak berpakaian lengkap, hanya mengenakan celana saja.

Selanjutnya, saat Erna melihat Ripan ternyata bagian wajahnya sudah ada yang mulai berdarah, seperti ada indikasi kekerasan yang dilakukan oknum polisi terhadap anaknya tersebut.

“Terus saya liat mukanya daerah mata Ripan itu sudah mau berdarah kena tinju. Saya peluk anak saya, dan bilang anak saya jangan dipukul.” rengeknya sambil meneteskan air mata.

Pun demikian, pihak kepolisian mengaku kalau itu dipukul oleh massa. Akan tetapi Ripan sendiri, bilang dengan ibunya itu dipukuli polisi.

“Polisi bilang dipukuli massa, tapi Ripan bilang polisi yang gebukin, bukan massa. Tapi polisi langsung bantah, kalau Ripan bohong. Saya bilang lah anak saya tidak bohong,” paparnya.

Sementara itu, Nugraha selaku abang sepupu Ripan menjelaskan, bahwa dari pengakuan almarhum yang disampaikan pada Erna, bahwa ia sempat dibawa ke Hotel Shang Ratu kawasan Broni ketika malam itu, Kamis (09/07) sekitar pukul 01.00 wib.

“Pas malam ditangkap itu, Ripan tidak langsung dibawa ke Polda, tapi dibawa ke Hotel Ratu di Broni. Ini dia sendiri yang cerita ke saya dan mamanya. Jadi disitu dia dipres, disuruh ngaku,” ujar Nugraha.

Saat itu juga, Ripan masih tetap tidak buka suara, karena kata Nugraha memang adiknya tersebut tidak punya bos. Dia hanya beli paket barang, seharga Rp 200.000.

“Dia itu mau ngaku apa, karena dia sendiri tidak tahu siapa bosnya. Posisinya kan dia itu beli. Dia ada duit beli dari temannya, bukan barang dari dia. Dan temannya tadi ngaku bosnya dari LP. Kita gak tau Ripan ini emang ngedar atau gimana, tapi dia gak tau dimana tempat dia membeli.” paparnya.

Tak hanya itu saja, karena tidak tahan terus dipukul petugas, Ripan pun membalas.

“Polisi mukul pakai ikat pinggang yang ada besinya itu, dibalas sama si Ripan. Waktu dipukul itu, Ripan gak ngaku. Katanya, ma biar aku mati ma, aku gak ada bos. Bilang Ripan gitu,” bebernya.

Karena si Ripan belum ngaku, akhirnya petugas kepolisian terus memukulnya sampai minta ampun, terus dipukul.

Setelah 5 hari ditangkap, pihak keluarga terus mendesak untuk bertemu Ripan, dan akhirnya diperoleh ijin oleh Petugas kepolisian Polda Jambi.

“Pas ketemu itu, saya melihat kondisi Ripan tengah sakit-sakit. Matanya biru, dan hampir mata putihnya hilang ditutupi oleh darah beku. Seperti habis dipukul, dan punggungnya pun juga sakit, sampai ke pinggang.” imbuh ibunya sambil menangis.

Tak tahan melihat anak semata wayangnya tersebut menderita, Erna pun langsung memeluk anaknya dengan air mata yang menetes di pipinya.

Saat dipegang badannya, Ripan mengaduh karena kesakitan. Namun ketika Erna mau buka bajunya, Ripan mengelak dan bilang ‘aku baik-baik saja, ibu jangan banyak pikiran’.

“Saya menangis melihat kondisi anak saya kesakitan seperti itu. Saya bilang pada polisi, kalau anak saya sakit bawa ke rumah sakit pak kata saya. Saya buka lengan bajunya, ada beberapa yang dikasih perban.” timpalnya.

Selain itu, saat dijenguk ibunya tersebut detak jantung Ripan sangat kencang, hingga terlihat dari luar bajunya bergetar. Sehingga kesedihan Erna pun makin bertambah.

“Saya lihat dadanya bergetar dari luar bajunya itu, sambil nafasnya sesak. Kasian sekali anak ku,” ungkapnya.

Bahkan, hingga jenazahnya dimandikan, tubuh ripan masih terlihat jelas biru-biru di badannya bak memar.

“Sampai ia dimandikan, di badannya itu masih ada Biru-biru memar, bekas pukulan.” tandasnya.


(Tribunnetizen.news/Celine)
















































Bandar Ceme Online Terpercaya


TerPopuler

close