Lagi Viral! Video Penangkapan 'Maria Pauline Lumowa' Pembobol BNI Rp 1,7 Triliun

Lagi Viral! Video Penangkapan 'Maria Pauline Lumowa' Pembobol BNI Rp 1,7 Triliun

Jumat, 10 Juli 2020, 1:22:00 PM
Tribunnetizen.news - Selama 17 tahun menjadi buronan kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C) fiktif, akhirnya wanita bernama Maria Pauline Lumowa ditangkap polisi.

Maria Pauline Lumowa akhirnya ditangkap setelah 17 tahun lebih menjadi buron.

Dia merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

Kasusnya berawal pada periode Oktober 2002 ketika Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai US$136 juta dan 56 juta Euro, atau setara Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu, kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Sejak Desember 2003, Maria menjadi buronan sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perempuan berusia 62 tahun ini belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bepergian ke Singapura.

Pemerintah Indonesia sempat mengajukan dua kali permohonan ekstradisi kepada pemerintah Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, sebab ternyata Maria sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979.

Namun permintaan ekstradisi itu ditolak oleh Belanda yang justru memberikan opsi agar Maria disidangkan di Belanda.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah beberapa kali melakukan proses ekstradisi terhadap buronan kasus korupsi.

Tersangka suap pembangunan Wisma Atlet, Nazaruddin, diekstradisi dari Cartagena, Kolombia pada 2011.

Samadikun Hartono, terpidana penyelewengan dana BLBI diekstradisi dari China pada 2016.

Ketika Maria melarikan diri ke Singapura, lalu ke Belanda, demikian klaim Yasonna, pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya hukum agar yang bersangkutan diekstradisi ke Indonesia.

"Tapi pemerintah Belanda menolak, dengan alasan kita belum mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Belanda," ungkapnya.

Setahun lalu, Maria ditangkap otoritas hukum Serbia berdasarkan red notice Interpol, saat dirinya mendarat di bandara ibu kota negara itu.

Maria - warga negara Belanda - ditangkap oleh otoritas hukum Serbia pada 16 Juli 2019 di bandara di Beograd, Serbia, berdasarkan red notice Interpol bertanggal 23 Desember 2003.

Pemerintah Indonesia kemudian merespons informasi penangkapan Maria dengan mengirim surat permintaan percepatan ekstradisi kepada Serbia pada 31 Juli 2019, kata Yasonna.

Dua bulan kemudian, otoritas hukum Indonesia kembali mengirim surat serupa, tambahnya.

"Kemudian kita melakukan pendekatan high level diplomacy dengan pemerintah Serbia," ungkapnya.

"Saya melaporkan kepada Presiden [Joko Widodo], melalui Mensesneg, bahwa diperlukan langkah-langkah high diplomacy, karena kita lewat tanggal 16 Juli, masa hukumannya akan berakhur dan mau-tidak-mau, harus dibebaskan," paparnya.

Usai tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (09/07), Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyebut ada sebuah negara di Eropa berusaha "melakukan upaya-upaya diplomasi" agar Maria tidak diekstradisi ke Indonesia.

Kemudian Yasonna, mengutip pernyataan salah seorang duta besar Indonesia di negara Eropa, mengatakan ada upaya menyuap pejabat Serbia yang dilakukan pengacara Maria Pauline untuk menggagalkan ekstradisi.

"Dan ada pengacara beliau [Maria Pauline] yang mencoba melakukan semacam upaya suap, tetapi pemerintah Serbia tetap berkomitmen," katanya

Sejauh ini belum ada klarifikasi dari pihak Maria Pauline Lumowa atas klaim tersebut. Maria telah berada di tahanan Bareskrim Mabes Polri setelah diekstradisi dari Serbia.

Dalam pengawalan ketat, Maria - dengan tangan terikat dan mengenakan baju tahanan warna oranye - sempat diperlihatkan sebentar di hadapan wartawan, sebelum dibawa ke tahanan Bareskrim Polri.

Dia telah diekstradisi dari Serbia untuk kemudian menjalani proses hukum di Indonesia. Proses ekstradisi ini bekerja sama dengan polisi interpol Serbia, kata Menko Polhukam.

Usai memperlihatkan Maria di hadapan wartawan, Menko Polhukam Mahfud dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memberikan keterangan pers.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan proses ekstradisi Maria Pauline Lumowa memerlukan proses panjang, apalagi yang bersangkutan adalah warga negara Belanda.

"Ada lobi-lobi, dan tentunya bukan cuma kita yang melakukan lobi," ungkap Yasonna. "Ada negara lain yang juga melakukan lobi-lobi [kepada pemerintah Serbia]."

"Ada upaya intens supaya yang bersangkutan tidak diekstradisi ke Indonesia," tambahnya. Pengacara Maria juga disebutnya melakukan upaya hukum untuk menggagalkan upaya ekstradisi itu.


(Tribunnetizen.news/Celine)










































poker online terpercaya

TerPopuler

close